Selasa, 30 Desember 2008

PERLOMBAAN

Dalam sebuah perlombaan lari anak-anak, Mereka semua berjajar,begitu penuh harapan; masing-masing ingin memenangkan perlombaan atau menjadi yang pertama, atau setidaknya merebut tempat kedua. Orangtua mereka menonton dari pinggir, masing-masing menyemangati anak mereka. Masing-masing anakpun berharap bisa menunjukkan kepada keluarganya bahwa dialah yang akan menjadi sang juara.

Pluit ditiup dan mereka pun melesat, seperti kereta perang terbakar. Menang dan menjadi pahlawan di tempat itu adalah keinginan setiap anak laki-laki.

Salah seorang anak, yang ayahnya berada dalam kerumunan, berlari memimpin dan berpikir,”Ayahku akan sangat bangga.”

Tetapi pada saat melesat melintasi lapangan dan menyeberangi turunan dangkal, anak kecil yang mengira akan menang itu salah melangkah dan terpeleset. Saat ia berusaha keras menjaga keseimbangan, lengannya bergerak kesana kemari. Dan ditengah tawa orang banyak ia terjerembab.

Saat ia jatuh,harapannya pun ikut jatuh-ia tidak bisa memenangkan perlombaan itu sekarang.Merasa terhina, ia hanya berharap entah bagaimana bisa menghilang. Tetapi saat ia jatuh, ayahnya berdiri dan menunjukkan wajah khawatirnya, yang bagi anak itu berkata dengan jelas,”Bangun dan menangkan perlombaan!”

Anak itupun bangkit dengan cepat-tidak ada yang salah,kecuali sedikit tertinggal-dan ia berlari dengan segenap tekat dan kemampuannya untuk menebus jatuhnya tadi. Karena ia begitu gugup untuk mendapatkan tempatnya semula, untuk menyusul dan menang,pikirannya bergerak lebih cepat daripada kakinya.Ia terpeleset dan kembali jatuh.

Ia berharap saat jatuh tadi ia berhenti, dengan begitu ia hanya satu kali dipermalukan.”Sebagai pelari, sekarang aku tidak punya harapan.Seharusnya aku tidak mencoba berlomba.”Tetapi, matanya menembus kerumunan orang yang sedang tertawa, dan ia mencari serta menemukan wajah ayahnya yang tatapan tajamnnya kembali berkata,”bangun dan menangkan perlombaan!”

Jadi, ia pun melompat dan kembali mencoba, sepuluh meter di belakan peserta terakhir perlombaan.”Jika ingin menyusul sepuluh meter itu,”pikirnya, “aku harus berlari dengan benar-benar kencang!”.Dengan mengerahkan semua kemampuannya, ia pun mendapatkan kembali delapan meter, kemudian sepuluh meter...Tetapi saat berusaha keras menyusul pelari terdepan,ia terpeleset dan kembali terjatuh.Kalah!Ia berbaring disana tanpa suara. Air matanya menetes.

“Tak ada gunanya lagi berlari!Tiga kali gagal dan aku keluar!Mengapa harus mencoba?Aku sudah kalah,jadi apa gunanya?”pikirnya.”Aku akan hidup dengan rasa malu ini”Tetapi kemudian ia memikirkan ayahnya, yang akan segera ia hadapi.

“Bangun,”sebuah gema terdengar pelan,”kamu sama sekali belum kalah,karena satu-satunya hal yang harus kamu lakukan untuk menang adalah bangkit setiap kali jatuh.Bangun! Gema itu mendesaknya, “Bangun dan ambil tempatmu!Kamu tidak berada disini untuk gagal!Bangun dan menangkan perlombaan itu!”

Bersambung....

PERLOMBAAN part 2

Jadi anak itupun bangkit untuk berlari sekali lagi, menolak untuk kalah, dan memutuskan bahwa entah menang atau kalah, setidaknya ia tidak menyerah. Jadi, jatuh dibelakang peserta lain sekarang, paling jauh dibanding sebelumnya, ia tetap mengerahkan semua kemampuannya dan berlari seolah masih bisa menang. Telah tiga kali ia terjatuh, dan telah tiga kali pula ia bangkit. Meskipun tertinggal terlalu jauh untuk berharap akan menang. Ia tetap berlari hingga akhir. Orang-orang menyoraki anak lain yang melintasi garis dan memenangkan tempat pertama, dengan kepala tegak dan bangga dan gembira-tidak jatuh, tidak dipermalukan.

Tetapi, ketika anak muda yang jatuh itu melintasi garis, di tempat terakhir, kerumunan orang menyorakinya dengan lebih hebat karena ia menyelesaikan perlombaan. Dan meskipun ia tiba terakhir dengan kepala tertunduk, tidak bangga, jika mendengarkan kerumunan orang itu, Anda akan mengira ia telah memenangkan perlombaan.

Dan kepada ayahnya, dengan sedih ia berkata,”Aku tidak melakukannya dengan baik.”

“Bagi ayah kamu menang,”kata ayahnya.”Kamu bangkit setiap kali jatuh.”

Semua dalam kehidupan ini seperti perlombaan itu, penuh suka duka dan naik turun. Dan satu-satunya hal yang harus anda lakukan agar menang adalah bangkit setiap kali terjatuh. Dan ketika depresi serta keputusasaan berteriak lantang dihadapan kita, suara lain dalam diri kita berkata,”Bangun dan menangkan perlombaan!”

(Cerita disadur dari buku 'RAHASIA MENJADI ORANG SUKSES',-Ruben Gonzales)

Minggu, 28 Desember 2008

To Be Creative

Untuk menjadi seseorang yang kreatif memang tidaklah semudah seperti apa yang kita bayangkan.Sebuah buku yang ditulis oleh John Putzier dengan judul Get Weird menyatakan bahwa ada tiga hal yang bisa menghambat daya kreatifitas kita selama ini,diantaranya yaitu kebiasaan hidup, Judgmentalis serta resistance to change.

Kebiasaan hidup kita sehari-hari atau rutinitas ternyata sangat menghambat berkembangnya daya kreatifitas kita.Bangun tidur lalu berangkat ke kantor dengan melewati jalan yang sama setiap harinya dengan menyetel radio di frekuensi yang sama, ketika di kantor kita bertemu dengan teman-teman kantor yang sama serta melakukan pekerjaan yang itu-itu juga. Kebiasaan-kebiasaan ini ternyata membuat kita malas berfikir dan akhirnya menyebabkan kita tidak memiliki tantangan berarti sehingga kondisi ini tanpa disadari dapat membunuh daya kreatif kita.

Yang disebut Judgementalis. Tanpa disadari kita sering mengambil keputusan hidup yang cenderung menempatkan kita pada posisi aman/nyaman dan sama sekali tidak ingin menyentuh yang namanya sebuah resiko.inilah yang disebut judgementalis. Kita menjadi malas untuk memikirkan masalah yang dihadapi sehingga kita tidak terbiasa mempertimbangkan atau bahkan mengelola resiko yang akan dihadapi.

Terakhir, yang menghambat daya kreatifitas manusia adalah resistance to change atau sikap takut terhadap perubahan. Sikap anti perubahan bisa dilihat pada sikap penolakan terhadap hal atau ide yang baru,yang kadang muncul disekeliling kita. Sikap yang tidak menginginkan perubahan tentunya akan menggiring kita pada posisi tidak adanya lagi tantangan hidup sehingga menempatkan tingkat kreatifitas kita berada pada posisis yang paling rendah.

Ada beberapa langkah sederhana yang bisa kita lakukan untuk menghindari jebakan yang menghambat kreatifitas ini.Langkah-langkah itu sebagai berikut : Ubahlah rutinitas sehari-hari dengan cara mencari jalan alternatif lain menuju kantor, dan berani untuk tersesat di jalan.Cobalah telusuri dan menghubungi teman-teman semasa kecil dulu. Langkah lain adalah ganti penampilan sehari-hari sehingga kelihatan berbeda,bacalah tulisan atau artikel yang justru anda tidak suka, dan mulailah hobi baru berbeda dari biasanya.


Cara lain yang bisa untuk dicoba adalah berani menuliskan kesalahan kerja yang pernah kita lakukan dan menempelkannya di dinding,berani mengakui kesalahan adalah tindakan terpuji.Dan masih banyak cara lain yang bisa kita gunakan untuk meningkatkan daya kreatifitas kita secara sederhana.


Dengan mengenali faktor-faktor yang menghambat daya kreatifitas kita berarti kita telah melakukan tindakan identifikasi masalah.etelah itu tentunya kita tinggal menentukan bagaimana cara meningkatkan daya kreatifitas secara sederhana.
Dengan membangun daya kreatifitas kita masing-masing diharapkan akan memberikan kontribusi yang besar bagi kita semua.Amin

jatmikos

Sabtu, 13 Desember 2008

Tidak ada jalan yang rata

Sudahkah saat terbangun di pagi hari Anda memikirkan apa yang akan dilakukan dalam waktu 24 jam ke depan? Mengapa saya bertanya tentang hal ini? Sebab, apa yang kita lakukan hari inilah yang akan menentukan masa depan kita. Kita mungkin saja tidak akan bertemu dengan hari esok, namun, jika kita melakukan yang terbaik hari ini, maka bukan tidak mungkin masa depan kita akan lebih baik. Untuk itu, jika saat terbangun di pagi hari kita sudah tahu apa yang akan dilakukan dalam 24 jam berikutnya, hal ini akan membantu agar kita bisa menyelesaikan semua tugas, amanah, dan tanggung jawab dengan lebih maksimal. Begitu juga dalam kehidupan. Jika ada target dan tujuan jelas dalam hidup, maka kita pun akan bisa lebih pasti dalam menentukan langkah ke depan.

Dengan mempunyai target, kita seolah mempunyai kompas untuk mengarahkan ke mana kita menuju. Jika itu sudah kita miliki, maka kita tinggal melangkah untuk mewujudkannya. Sudah pasti, ujian dan cobaan, maupun godaan kadang akan datang untuk membelokkan langkah kita dari target yang telah kita tetapkan. Tak jarang, hempasan badai kehidupan juga bisa melemahkan semangat.

Maka, dalam berbagai kesempatan, saya selalu menekankan pentingnya mempunyai keberanian untuk mewujudkan target tersebut sampai kita benar-benar mencapai kesuksesan. Dengan keberanian tersebut, kita akan tetap kokoh saat diterjang badai. Kita juga akan mampu menahan godaan sehingga tetap fokus pada tujuan.

Memang tidak gampang untuk meraih sukses. Tak ada jalan rata untuk mencapai semua impian. Untuk itu, perlu keberanian menentukan tujuan, keberanian dalam melangkah, dan keberanian untuk mewujudkan sepenuh hati dan sekuat tenaga sampai kita benar-benar meraihnya.

By : Andrie wongso

Permennya lupa dimakan

Alkisah ada dua orang anak laki-laki, Bob dan Bib, yang sedang melewati lembah permen lolipop. Di tengah lembah itu terdapat jalan setapak yang beraspal. Di jalan itulah Bob dan Bib berjalan kaki bersama.

Uniknya, di kiri-kanan jalan lembah itu terdapat banyak permen lolipop yang berwarni-warni dengan aneka rasa. Permen-permen yang terlihat seperti berbaris itu seakan menunggu tangan-tangan kecil Bob dan Bib untuk mengambil dan menikmati kelezatan mereka.

Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lolipop yang bisa diambil. Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut. Ia mempercepat jalannya supaya bisa mengambil permen lolipop lainnya yang terlihat sangat banyak didepannya. Bob mengumpulkan sangat banyak permen lolipop yang ia simpan di dalam tas karungnya. Ia sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut tapi sepertinya permen-permen tersebut tidak pernah habis maka ia memacu langkahnya supaya bisa mengambil semua permen yang dilihatnya.

Tanpa terasa Bob sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. Dia melihat gerbang bertuliskan "Selamat Jalan". Itulah batas akhir lembah permen lolipop. Di ujung jalan, Bob bertemu seorang lelaki penduduk sekitar. Lelaki itu bertanya kepada Bob, "Bagaimana perjalanan kamu di lembah permen lolipop? Apakah permen-permennya lezat? Apakah kamu mencoba yang rasa jeruk? Itu rasa yang paling disenangi. Atau kamu lebih menyukai rasa mangga? Itu juga sangat lezat." Bob terdiam mendengar pertanyaan lelaki tadi. Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga. Ia telah berjalan sangat cepat dan membawa begitu banyak permen lolipop yang terasa berat di dalam tas karungnya. Tapi ada satu hal yang membuatnya merasa terkejut dan ia pun menjawab pertanyaan lelaki itu, "Permennya saya lupa makan!"

Tak berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. "Hai, Bob! Kamu berjalan cepat sekali. Saya memanggil-manggil kamu tapi kamu sudah sangat jauh di depan saya." "Kenapa kamu memanggil saya?" tanya Bob. "Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen anggur bersama. Rasanya lezat sekali. Juga saya menikmati pemandangan lembah, indah sekali!" Bib bercerita panjang lebar kepada Bob. "Lalu tadi ada seorang kakek tua yang sangat kelelahan. Saya temani dia berjalan. Saya beri dia beberapa permen yang ada di tas saya. Kami makan bersama dan dia banyak menceritakan hal-hal yang lucu. Kami tertawa bersama." Bib menambahkan.

Mendengar cerita Bib, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia lewatkan dari lembah permen lolipop yang sangat indah. Ia terlalu sibuk mengumpulkan permen-permen itu. Tapi pun ia sampai lupa memakannya dan tidak punya waktu untuk menikmati kelezatannya karena ia begitu sibuk memasukkan semua permen itu ke dalam tas karungnya.

Di akhir perjalanannya di lembah permen lolipop, Bob menyadari suatu hal dan ia bergumam kepada dirinya sendiri, "Perjalanan ini bukan tentang berapa banyak permen yang telah saya kumpulkan. Tapi tentang bagaimana saya menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia." Ia pun berkata dalam hati, "Waktu tidak bisa diputar kembali." Perjalanan di lembah lolipop sudah berlalu dan Bob pun harus melanjutkan kembali perjalanannya.

Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja. Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup. Kita menjadi Bob di lembah permen lolipop yang sibuk mengumpulkan permen tapi lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia.

Pernahkan Anda bertanya kapan waktunya untuk merasakan bahagia? Jika saya tanyakan pertanyaan tersebut kepada para klien saya, biasanya mereka menjawab, "Saya akan bahagia nanti... nanti pada waktu saya sudah menikah... nanti pada waktu saya memiliki rumah sendiri... nanti pada saat suami saya lebih mencintai saya... nanti pada saat saya telah meraih semua impian saya... nanti pada saat penghasilan sudah sangat besar... "

Pemikiran ‘nanti' itu membuat kita bekerja sangat keras di saat ‘sekarang'. Semuanya itu supaya kita bisa mencapai apa yang kita konsepkan tentang masa ‘nanti' bahagia. Terkadang jika saya renungkan hal tersebut, ternyata kita telah mengorbankan begitu banyak hal dalam hidup ini untuk masa ‘nanti' bahagia. Ritme kehidupan kita menjadi sangat cepat tapi rasanya tidak pernah sampai di masa ‘nanti' bahagia itu. Ritme hidup yang sangat cepat... target-target tinggi yang harus kita capai, yang anehnya kita sendirilah yang membuat semua target itu... tetap semuanya itu tidak pernah terasa memuaskan dan membahagiakan.

Uniknya, pada saat kita memelankan ritme kehidupan kita; pada saat kita duduk menikmati keindahan pohon bonsai di beranda depan, pada saat kita mendengarkan cerita lucu anak-anak kita, pada saat makan malam bersama keluarga, pada saat kita duduk bermeditasi atau pada saat membagikan beras dalam acara bakti sosial tanggap banjir; terasa hidup menjadi lebih indah.

Jika saja kita mau memelankan ritme hidup kita dengan penuh kesadaran; memelankan ritme makan kita, memelankan ritme jalan kita dan menyadari setiap gerak tubuh kita, berhenti sejenak dan memperhatikan tawa indah anak-anak bahkan menyadari setiap hembusan nafas maka kita akan menyadari begitu banyak detil kehidupan yang begitu indah dan bisa disyukuri. Kita akan merasakan ritme yang berbeda dari kehidupan yang ternyata jauh lebih damai dan tenang. Dan pada akhirnya akan membawa kita menjadi lebih bahagia dan bersyukur seperti Bib yang melewati perjalanannya di lembah permen lolipop.

by : Nathalia Sunaidi

You don't think who you are,You are what you think

Pernahkah Anda mendengar sebuah kalimat bijak, "You don't think who you are, you are what you think"? Kalau dijabarkan secara harafiah, hal ini berarti kita tidak perlu berpikir siapa kita, namun kitalah yang menentukan diri kita dengan apa yang kita pikirkan. Sederhananya, apa yang kita yakini dalam pikiran kita, itulah yang akan menjadi kenyataan.

Ya, keyakinan adalah modal dasar kita menuju kesuksesan. Dengan sebuah keyakinan 100 persen, ditambah kerja keras, perjuangan pantang menyerah, keuletan, kedisplinan dalam memperjuangkan apa yang kita yakini tersebut, jalan menuju sukses akan dapat kita raih. Hal itu sudah saya buktikan sendiri.

Keyakinan saya bahwa "success is my right!" yang sangat kuat membuat saya selalu mau berjuang keras untuk mewujudkan semua cita-cita saya. Maka, ketika dulu kehidupan saya miskin, dengan perjuangan sepenuh hati dan dilandasi keyakinan kuat tersebut, saya akhirnya bisa meraih semua apa yang saya impikan.

Memang tidak mudah meraih semua itu. Berbagai halangan dan tantangan, pasti akan menghadang. Namun, dengan sebuah keyakinan yang kuat, maka berbagai ujian dan cobaan justru akan menjadi batu loncatan yang mampu membuat kita dapat melompat lebih tinggi. Dengan keyakinan yang kuat, kita akan memperoleh energi yang luar biasa untuk dapat mengatasi semua masalah dan persoalan yang timbul dalam usaha meraih sukses.

Untuk itu, mari kuatkan kembali keyakinan kita untuk mewujudkan semua impian. Dengan begitu, kita akan dapat terus memupuk semangat terus maju, pantang mundur.

by : Andrie wongso

Check Our Commitment

Walau merangkak tersendat mungkin banyak di antara kita yang pada akhirnya berhasil sampai pada titik pemahaman tentang kekuatan diri sendiri. Mengingat kembali kelebihan-kelebihan dan kisah sukses pribadi memang menjadikan hidup kita lebih berwarna. Tiba-tiba saja kita bisa merasa lebih besar dan lebih nyaman berdiri di atas pijakan yang mungkin tak kokoh sekalipun. Lalu pemahaman akan nilai-nilai dan keyakinan pribadi bisa memberi kita informasi tentang apa yang penting buat kita dan pada akhirnya membantu kita mengarahkan energi untuk sebuah prioritas yang hendak kita perjuangkan.

Namun apakah semua itu sudah cukup membuat kita mau berkomitmen memperbaiki diri, mengejar apa yang tertinggal di hari lalu ? Apakah pemahaman diri yang makin baik sudah cukup menjadi bekal agar kita punya daya juang lebih untuk mengoptimalkan apa yang ada ? Bahkan ketika informasi tentang keseimbangan hidup kita sudah diurai, apakah semua sungguh bisa kita manfaatkan sebagai momentum penting untuk memperbaiki komitmen kita ? Atau jangan-jangan ada yang masih meragukan peran komitmen. Anda sendiri yang tahu jawabannya.

Yang saya tahu, komitmen adalah salah satu kata kunci saat kita bicara usaha manusia memperbaiki diri. Bahkan pada apapun gerak dan usaha manusia, komitmen menjadi nyala api berkobar yang mengarahkan kita pada impian-impian dalam gelap. Komitmen untuk berubah adalah wajah lain dari keping logam bernama perubahan. Nyaris tak ada perubahan tanpa komitmen untuk berubah. Hanya ada isapan jempol jika Anda membiarkan impian tanpa dilambari jiwa bernama komitmen itu.

Mempersoalkan komitmen pribadi adalah langkah lain yang akan mengantar kita untuk makin jelas mendapatkan gambaran akan peta hidup kita ke depan. Sudah ada banyak sumber daya dan data, namun tanpa komitmen semua bisa berhenti tak bergerak. Modal yang kita punya tak bisa membawa perubahan tanpa penggerak bernama komitmen. Komitmen bertindaklah yang akan mulai memutar roda perubahan itu. Mencoba terus memutar roda kehidupan dan penasaran saya terhadap konsep komitmen mengantar saya pada penemuan menarik berikut ini.

Dari sebuah tulisan saya membaca penggalan sebagai berikut "The achievement of your goal is assured the moment you commit yourself to it." -- Mack R. Douglas Saat kaki mulai melangkah dan komitmen untuk itu bisa terus dijaga, maka hanya soal waktu saja kita akan sampai pada tujuan yang kita angankan, begitu kira-kira pesan yang saya pahami dari kutipan di atas.

Ketika saya coba menggunakan pernyataan di atas sebagai cermin , maka tetap saja soal komitmen bukanlah perkara sederhana. Saat mempersoalkan konsepsi komitmen maka barisan pertanyaan besar lain yang menyentak saya terkait pada bagaimana cara saya memastikan bahwa saya mampu terus menyalakan api komitmen dalam diri ?Bukankah ada banyak impian saya yang terbengkalai, hingga akhirnya saya terlupa sendiri ? Bukankah ada banyak rencana yang kacau balau, tertimpa banyak agenda lain yang sayangnya tak juga bisa saya selesaikan ? Bukankah ada banyak waktu yang akhirnya seakan terbuang sia-sia ?"How do I keep the commitment alive?", adalah pertanyaan besar buat saya.

Maka saya sedikit terhibur ketika membaca nasehat beberapa guru seputar menjaga nyala api komitmen itu. Ada beberapa masukan yang layak kita timbang dan renungkan. Arus utama yang ditawarkan menuntun saya untuk coba mengkaji dan melihat ke dalam lalu secara perlahan coba mengarahkan semua tingkatan dan dimensi diri berjalan dan berfungsi dengan selaras. Benar, membicarakan komitmen juga menyentuh soal selaras tidaknya pikiran dan emosi kita dengan apa yang sungguh ingin kita kejar. Dalam hal ini John Robson pernah berujar:It's essential that all aspects of our being align with what we want to do. If our head affirms that something is important but our body and our emotions feel no desire to get involved, we will never succeed in our aims.Tak cukup hanya mengerakan kepala Anda.

Tangan dan emosi Anda perlu diselaraskan. Ini soal "head", "hand" dan juga "heart". Kalau apa yang kita pikirkan tak selaras dengan emosi kita maka akan makin sulit kita mencapai apa yang dimaui. Percaya bahwa Anda mampu tidaklah cukup. Juga kesadaran akan arti penting tujuan Anda belum mengantar Anda kemana-mana, jika pada kenyataannya kita tak melakukan apa-apa sebagai ekspresi pemahaman dan keyakinan itu. Saya tak hendak mengkritisi anjuran untuk berpikir besar atau berpikir positif.

Semua tentu punya alasan dan manfaat. Hanya saja, jika kita hendak merealisasikan impian yang ada, maka menyelaraskan usaha dengan keyakinan menjadi hal yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Saya beruntung menemukan anjuran tentang penyelarasan di atas. Saya juga tercengang saat tahu bahwa ada banyak isu yang perlu dikaji saat bicara komitmen. Ada banyak dimensi komitmen yang perlu kita dalami, agar apa yang kita upayakan sungguh bisa membuahkan hasil. Memperjuangkan apa yang kita mau, ternyata juga mensyaratkan kita untuk memperlihatkan komitmen di tingkat spiritual. Mengenali motivasi terdalam kita adalah salah satu langkahnya. Bukankah tak sedikit yang pernah mengingatkan kita akan pentingnya pemahaman akan motivasi ini ?

Sejalan dengan ini pengenalan kita akan makna dari tindakan dan tujuan kita juga menjadi sumber energi yang akan terus menggerakkan kita. Menyadari gambaran besar dari apa yang hendak kita kejar akan memotivasi kita untuk bergerak dan terus bergerak. Sementara minimnya pemahaman yang utuh akan tujuan-tujuan kita kadang justru mengantarkan orang pada kebingungan dan kehampaan. Karenanya banyak guru mengingatkan kita untuk berpikir jauh ke depan, membuat rencana hari ini untuk persiapan hari akan datang. Tak saja hari 20 atau 50 tahun ke depan, kita juga perlu menghitung kesiapan kita menuju masa setelah kehidupan dunia terhenti. Memahami makna penciptaan kita semoga juga memperkokoh komitmen kita pada tingkat spiritualKomitmen pada tingkatan pikiran dan kesadaran terkekspresikan ke dalam bentuk yang beragam. Ada yang sekedar mulai dengan memikirkannya secara mendalam, dan tak sedikit yang melakukan visualisasi.

Semakin jelas tujuan Anda, makin kita diharapkan akan memiliki komitmen untuk meraihnya. Melakukan dialog internal dengan diri sendiri atau meditasi adalah jalan yang bisa dijadikan alternatif untuk menancapkan komitmen di tingkat kesadaran dan pikiran kita. Maka, ada banyak kawan yang aktif mendalami journal writing, mengekspresikan buah diskusi dengan diri sendiri dan merekam pemaknaan terhadap apa yang terjadi di sekeliling merekaSecara emosi, komitmen dibangkitkan dengan membangun perasaan gembira dan puas atas apa yang sudah kita dapat. Bersyukur adalah kata sederhana yang kadang kita lupa melakukannya dalam keseharian.

Bukankah sikap negatif, sinisme adalah gambaran dari kurangnya rasa syukur. Kita mudah melihat dengan kaca mata gelap, yang sayangnya kita juga lupa bahwa dengan cara itu berarti kita tengah membuang energi, yang akhirnya membuat kita lelah secara mental. Menikmati apa yang ada dan mensyukuri yang di depan mata mungkin adalah pekerjaan sederhana yang perlu saya latih kembali. Saya bersyukur tengah diyakinkan bahwa bersyukur adalah tali yang akan menguatkan komitmen saya secara emosiSebagaimana sudah diulas sedikit di atas, pada akhirnya geraklah yang sungguh mengantar kita pada apa yang kita mau. "Action and Wisdom" kata Andrie Wongso. Bergeraklah yang akan memutar roda kehidupan Anda.

Tak sekedar bergerak dengan jurus dewa mabuk, kita perlu menghitung gerak agar lebih efektif dalam mencapai sasaran kita. "Apakah tindakan kita mengarahkan kita pada tujuan ?", itu adalah salah satu pertanyaan dasar yang perlu terus kita lontarkan pada diri sendiri, untuk memastikan bahwa kita terus berada di jalur yang benar. Kalau satu tindakan tak memberi hasil, maka menjadi fleksibel adalah anjuran banyak pakar. "Act differently" adalah semboyannya. Tak hanya sibuk bergerak, kita butuh waktu untuk memonitor sejauh mana progress dari usaha kita. Mencari umpan balik dan mempertimbangkan alternatif lain adalah pilihan-pilihan yang selarasa dengan siklus Plan - Do - Check - Action . Inilah wajah komitmen di tingkat fisik. Merenungkan, mempertimbangkan dan mengekspresikan komitmen dalam berbagai wajahnya semoga akan meningkatkan kemungkinan kita meraih apa yang kita mau. "Tahu yang Anda Mau" adalah hal positif. Namun itu tak cukup. Punya "Plan" juga baik, tapi tetap tak mengantar Anda kemana-mana. Juga jika Anda hanya "Do - Check" dan "Do - Check", maka bisa salah arah. Tak ada satu resep manjur yang tepat dan cocok buat semua situasi.

Walau banyak orang menyebut bahwa sukses adalah soal yang sederhana, namun perlu seni sendiri untuk meramu semua resep yang ada, lalu mengolahnya sedemikian rupa.Mudah-mudahan ini jadi momentum tambahan yang menggerakan saya, yang menguatkan komitmen saya, dan tak hanya membuat saya berhenti pada tingkatan komat-kamit !

Penulis : Adjie - Praktisi Bidang Pengembangan SDM

Mentalitas Berkelimpahan

Seorang milyuner yang baik tahu bahwa memberi adalah bentuk tertinggi dari manifestasi alamiah seseorang. Hal tersebut adalah kombinasi dari keyakinan (faith) dan tindakan.

Tindakan seperti apa?

Berderma.

Berderma, dan Anda Mendapatkan Lebih Banyak Lagi

Orang-orang kaya (milyuner) pada umumnya akan menyumbangkan 10% dari penghasilan mereka untuk kegiatan amal, sosial, keagamaan, dlsbnya. Hal ini membuat kekayaan mereka bertambah berlipat ganda.

Lihatlah apa yang dilakukan oleh Bill Gates, Warren Buffet, John D. Rockefeller, Sir John Marks Templeton, Oprah, dan orang-orang kaya lainnya. Mereka bahkan menyumbang lebih dari 10% penghasilan mereka untuk kegiatan sosial! Dan apakah mereka menjadi miskin karenanya?

Sebaliknya, kekayaan mereka menjadi semakin bertambah!

Cobalah Anda perhatikan orang-orang yang sangat kaya di dunia ini (termasuk di Indonesia), hampir dapat dipastikan bahwa mereka memiliki pola yang sama; semakin banyak yang mereka bagikan, maka semakin banyak yang mereka dapatkan.

Mengapa hal tersebut dapat terjadi?

Karena memberi akan membuat uang menjadi bertambah!

Bagaimana bisa?

Sama seperti air yang memiliki 3 bentuk; es, cair, dan uap, kitapun dapat berfikir bahwa uang memiliki 3 bentuk pula; bentuk beku (materi), bentuk cair (mental), dan bentuk uap (spiritual).

Ketika Anda memberikan uang dengan menggunakan sikap bersyukur dan berlebih, maka hal tersebut mendorong uang -dari bentuk materi- menjadi bentuk spiritual.

Sama seperti air yang mendidih dan bertambah pada saat dipanaskan, uangpun akan menjadi bertambah ketika dibagikan kepada orang lain yang membutuhkan.

Memberi dapat diartikan sebagai memperbesar, melipat-gandakan, dan membuat uang bertambah secara eksponensial.

Sebaliknya, semakin Anda ketat (pelit) dalam ‘menjaga’ uang Anda, maka uang Anda pun akan menjadi semakin ‘ramping’ (sedikit). Banyak orang yang memiliki mind-set miskin berfikir bahwa uang akan menjadi semakin sedikit jika diberikan kepada pihak lain (100% - 10% = 90%). Sementara orang2 yang sangat kaya mengerti bahwa membagikan uang sama artinya dengan memperbesar dimensi spiritual uang tersebut (100% x 10% = 1000%); ini namanya matematika spiritual.

Berderma adalah pelipat-gandaan uang Anda, bukan pengurang uang Anda. Ia akan memperbanyak, melipat-gandakan, dan memberikan nilai tambah kepada apa yang Anda lakukan. Ketika Anda mulai menjalankan kehidupan dengan hukum ini, Anda akan mendapatkan ganjaran yang berlipat-lipat!

Ketika Anda mengambil 1 buah apel dari pohonnya, maka alam semesta akan memastikan bahwa akan ada 2 buah apal pada tangkai tempat Anda mengambil apel tersebut. Satu bibit apel dapat menghasilkan pohon apel, hutan apel, panen apel, dan cukup banyak apel untuk semua orang, selamanya.

Seorang milyuner yang baik, tahu bahwa memberi adalah bibit yang akan melipat-gandakan sampai tak terbatas. Berderma adalah sebuah alat. Peter J. Daniels, salah seorang paling kaya di Australia, pernah berkata; “Anda tidak akan menjadi serakah jika Anda berderma”.

Jadi, mari mulai sisihkan 10% dari penghasilan Anda kepada pihak-pihak yang membutuhkan, dan Anda akan mendapatkan balasan berlipat-lipat ganda! Jika Anda komit untuk melakukan hal ini, maka hidup Anda akan menjadi sangat kaya, melebihi apa yang dapat Anda bayangkan.

Apakah Anda bersedia untuk komit dan berderma kepada yang membutuhkan?